Rumah di Ujung Gang – Misteri Keluarga yang Menghilang
Bab 1: Rumah yang Tak Pernah Dihuni
Bab 2: Keberanian Edo
Pada suatu hari, seorang pemuda bernama Edo yang baru pindah ke daerah itu mendengar cerita tentang rumah tersebut. Sebagai orang yang tidak percaya takhayul, Edo tertarik untuk membuktikan bahwa semua itu hanyalah mitos belaka.
"Aku yakin itu cuma cerita orang-orang yang suka membesar-besarkan sesuatu," ujar Edo kepada temannya, Dani. "Aku akan masuk ke dalam rumah itu malam ini dan menginap di sana."
Dani yang sudah lama tinggal di daerah itu memperingatkan Edo agar tidak main-main dengan hal-hal gaib. "Banyak orang yang sudah mencoba masuk ke sana, Do. Mereka keluar dengan wajah pucat dan tak pernah mau bicara soal apa yang mereka lihat."
Namun, Edo tetap bersikeras. Malam itu, dengan membawa senter dan ponsel untuk merekam, ia pergi ke rumah itu seorang diri. Pintu rumah itu ternyata tidak terkunci. Begitu Edo mendorongnya, engsel pintu berderit nyaring.
Ruangan di dalam rumah itu gelap dan penuh debu. Bau apek menyeruak, seperti rumah yang sudah lama tidak dihuni. Dengan langkah mantap, Edo menelusuri ruang tamu yang masih memiliki beberapa perabot lama—sofa berdebu, rak kayu dengan buku-buku yang sudah lapuk, dan sebuah foto keluarga yang tergantung miring di dinding.
Saat menyorotkan senter ke foto itu, Edo merasakan bulu kuduknya berdiri. Keluarga dalam foto itu tersenyum, tetapi matanya seperti mengikuti gerakannya. Ia menggelengkan kepala, mencoba mengabaikan perasaan tidak nyaman itu.
Ketika Edo melangkah lebih jauh ke dalam rumah, ia mendengar suara langkah kaki dari lantai atas. Deg! Jantungnya berdegup lebih kencang.
"Siapa di sana?" serunya, mencoba terdengar berani.
Tidak ada jawaban, hanya keheningan yang semakin menekan.
Bab 3: Terjebak dalam Kengerian
Edo mencoba tetap tenang. Mungkin itu hanya suara kayu yang memuai, pikirnya. Namun, ketika ia melangkah ke dapur, ia melihat sesuatu yang membuatnya terpaku.
Di atas meja makan, ada piring-piring yang tampak baru digunakan. Nasi dan lauk pauk masih tersaji, seolah-olah seseorang baru saja makan di sana. Padahal, rumah ini sudah bertahun-tahun kosong.
Edo menelan ludah. Tangannya gemetar saat ia mengangkat ponsel untuk merekam. Saat itulah ia mendengar suara napas berat di belakangnya.
Dengan perlahan, Edo berbalik—dan langsung membeku.
Seorang perempuan berdiri di sudut dapur, mengenakan gaun putih yang kotor dan sobek-sobek. Rambut panjangnya menutupi sebagian wajahnya, tetapi Edo bisa melihat bahwa matanya kosong dan menghitam.
Perempuan itu membuka mulutnya, mengeluarkan suara rintihan yang terdengar seperti isakan tangis. Tubuh Edo kaku, tidak bisa bergerak.
Dalam kepanikannya, Edo mencoba melangkah mundur, tetapi kakinya tersandung sesuatu. Ia terjatuh ke lantai, ponselnya terlempar ke sudut ruangan. Layar ponselnya masih menyala, menampilkan rekaman yang bergerak-gerak liar.
Tiba-tiba, perempuan itu melayang mendekatinya dengan cepat.
Edo menjerit, tetapi suara jeritannya teredam oleh suara bisikan yang memenuhi seluruh ruangan. Kata-kata yang tidak bisa dimengerti berputar-putar di kepalanya, membuatnya semakin ketakutan.
Saat ia hampir kehilangan kesadaran, tiba-tiba ada suara lain—suara pintu depan yang terbuka lebar. Dani! Dani masuk dan menarik Edo keluar dengan sekuat tenaga.
Begitu mereka berada di luar, pintu rumah itu tertutup dengan sendirinya, mengeluarkan suara dentuman keras.
Bab 4: Misteri yang Belum Terpecahkan
Edo tak sadarkan diri selama beberapa jam setelah kejadian itu. Saat ia akhirnya terbangun di rumahnya sendiri, Dani menatapnya dengan wajah cemas.
"Apa yang sebenarnya terjadi di dalam sana, Do?" tanyanya.
Edo menggigil. Ia ingin menceritakan semuanya, tetapi suaranya terasa tertahan di tenggorokannya. Setelah beberapa saat, ia hanya bisa menggeleng.
Dani kemudian menunjukkan ponsel Edo yang ia temukan di dalam rumah itu. Saat Edo memeriksa rekamannya, jantungnya hampir berhenti.
Di layar, ia melihat dirinya sendiri berjalan di dalam rumah. Tetapi ada sesuatu yang janggal—ia tidak sendirian.
Di belakangnya, bayangan perempuan bergaun putih itu terus mengikuti, matanya menatap tajam ke arah kamera.
Dan di akhir rekaman, sebelum layar menjadi gelap, ada suara lirih yang terdengar jelas:
"Jangan kembali…"
Sejak malam itu, Edo tak pernah lagi berbicara tentang rumah itu. Tak ada yang tahu apa yang sebenarnya terjadi pada keluarga yang dulu tinggal di sana. Yang jelas, rumah itu tetap kosong—dan siapa pun yang mencoba masuk ke dalamnya, tidak akan keluar dengan cerita yang sama.




Comments
Post a Comment