**"Jalan Buntu di Dimensi Lain"**

 

               "Jalan Pulang yang Salah"


Aku tidak pernah menyangka perjalanan pulang malam itu akan menjadi mimpi buruk yang terus menghantui hidupku. Aku hanya ingin pulang ke rumah setelah lembur di kantor, tapi nasib membawaku ke jalan yang seharusnya tidak pernah kulewati.  


                        "Awal yang Biasa"


Hari itu, aku pulang lebih malam dari biasanya. Jam menunjukkan pukul 11:30 malam saat aku akhirnya keluar dari gedung kantor. Jalanan sudah sepi, hanya beberapa kendaraan melintas. Aku biasanya pulang melalui jalan utama yang terang dan ramai, tapi malam itu, entah kenapa, aku memilih jalan pintas.  


Jalan itu memang lebih cepat, melewati daerah yang lebih sunyi dan gelap, tapi aku tidak pernah punya masalah sebelumnya. Aku hanya ingin segera sampai di rumah dan tidur.  


Ketika memasuki jalan itu, udara terasa lebih dingin dari biasanya. Pohon-pohon di pinggir jalan bergoyang pelan tertiup angin, menciptakan bayangan aneh di aspal. Lampu jalan di sini tidak terlalu banyak, hanya ada beberapa yang masih menyala.  


Setelah beberapa menit berkendara, aku melihat seorang wanita berdiri di pinggir jalan. Dia mengenakan gaun putih panjang, rambutnya tergerai menutupi wajahnya. Aku tidak berpikir aneh-aneh, mungkin dia hanya seseorang yang butuh tumpangan.  


Aku melambatkan motorku dan bertanya, **"Mbak, mau ke mana?"**  


Tidak ada jawaban. Dia hanya diam, berdiri kaku, tidak bergerak sedikit pun. Aku mulai merasa tidak nyaman, tapi tetap menunggu jawabannya. Setelah beberapa detik, perlahan dia mengangkat kepalanya. Wajahnya pucat, matanya kosong, dan bibirnya bergerak tanpa suara.  


Aku merinding. Tanpa berpikir panjang, aku segera menarik gas dan meninggalkan tempat itu. Tapi anehnya, ketika aku menoleh ke kaca spion, dia sudah tidak ada.  


### **Jalan yang Berulang**  


Aku mengendarai motor lebih cepat, berharap segera keluar dari jalan ini. Tapi setelah beberapa menit, aku menyadari sesuatu yang aneh. Aku kembali berada di tempat yang sama.  


Jalan yang tadi sudah kulewati muncul lagi di depanku. Pohon yang sama, lampu jalan yang sama, bahkan wanita berbaju putih itu masih berdiri di tempat yang sama.  


Darahku membeku. Aku jelas tidak mungkin berputar balik, tapi aku kembali ke titik awal. Aku mencoba menenangkan diri dan mengabaikannya. Aku terus melaju, tapi kejadian itu terus berulang.  


Setiap kali aku melewati jalan itu, aku kembali ke titik yang sama. Dan yang lebih mengerikan, setiap kali aku melewatinya, wanita itu semakin mendekat ke tengah jalan.  


### **Suara di Belakang**  


Setelah putaran keempat, aku mulai panik. Aku berteriak, **"Siapa pun yang bercanda, tolong hentikan ini!"**  


Suara tawaan pelan terdengar di belakangku.  


Aku menoleh sekilas, dan di kaca spion, aku melihat wanita itu duduk di belakangku!  


Aku hampir kehilangan kendali. Tangannya pucat mencengkeram bahuku, kuku panjangnya mencakar jaketku. Aku bisa merasakan napas dinginnya di leherku.  


Dengan ketakutan, aku membaca doa dalam hati. Aku tidak peduli jalan ini berulang atau tidak, aku hanya ingin keluar. Aku menutup mataku sesaat dan berteriak sekencang mungkin.  


### **Akhir yang Tak Bisa Dijelaskan**  


Saat aku membuka mata, aku sudah berada di jalan utama.  


Aku mengerem mendadak dan menepi. Jantungku berdetak kencang, napasku tersengal. Aku menoleh ke belakang. Tidak ada siapa-siapa.  


Aku melihat ke arah jalan pintas yang baru saja kulewati. Tidak ada jalan di sana. Hanya semak belukar dan pohon-pohon tua.  


Aku masih tidak mengerti apa yang terjadi malam itu. Aku pulang dengan tubuh gemetar, dan sejak saat itu, aku tidak pernah lagi melewati jalan yang tidak kukenal.  


Entah apa yang akan terjadi jika aku tidak berhasil keluar malam itu.




<script async src="https://pagead2.googlesyndication.com/pagead/js/adsbygoogle.js?client=ca-pub-8184606387989657"

     crossorigin="anonymous"></script>

Comments

Popular posts from this blog

"Arwah di Desa Angker, Banyuwangi"

Rumah di Ujung Gang – Misteri Keluarga yang Menghilang

"Kebun Angker: Misteri Pohon Tua yang Menjerat Jiwa"