"Jalan Buntu di Tengah Malam"
Di sebuah desa terpencil, ada jalan kecil yang dikenal sebagai Jalan Buntu. Orang-orang desa percaya jalan itu terkutuk karena siapa pun yang melewatinya saat malam hari tak pernah kembali. Meski banyak peringatan, seorang pemuda bernama Arga, yang baru pindah ke desa itu, tidak percaya pada takhayul semacam itu.
Suatu malam, Arga memutuskan untuk menjelajahiesa lebih jauh. Tanpa sadar, langkahnya membawanya ke ujung desa, di mana Jalan Buntu berada. Lampu senter di tangannya menyinari jalanan sempit itu, yang dikelilingi pohon-pohon besar dengan cabang menjuntai seperti tangan yang ingin meraih sesuatu.
“Apa yang menyeramkan dari jalan ini? Hanya gelap dan sepi,” gumam Arga sambil tersenyum sinis.
Langkah kakinya bergema di antara pohon-pohon. Angin dingin tiba-tiba berhembus, membawa suara bisikan samar, “Pergi...”. Arga berhenti dan menoleh ke sekeliling, tapi tak ada siapa pun.
Ia memutuskan untuk melanjutkan, meski firasat buruk mulai menyelinap. Semakin jauh ia berjalan, semakin aneh suasananya. Udara terasa berat, dan bau busuk mulai tercium. Kemudian, ia melihat sesuatu di tengah jalan—sebuah patung wanita tanpa wajah, berdiri dengan kedua tangan terulur ke depan.
Arga mendekat untuk melihat lebih jelas. Saat cahaya senter mengenai patung itu, terdengar suara langkah kaki di belakangnya. Ia berbalik, tapi hanya ada kegelapan. “Siapa di sana?” tanyanya dengan suara tegas, meski hatinya mulai diliputi ketakutan.
Tiba-tiba, patung itu bergerak. Kepala tanpa wajahnya menghadap ke Arga, dan dari arah mulut yang seharusnya kosong, terdengar suara cekikikan menyeramkan. Arga berlari sekuat tenaga, tapi jalan itu terasa semakin panjang, seperti tak berujung.
Bisikan-bisikan menjadi semakin keras, dan di sudut matanya, ia melihat bayangan-bayangan berkelebat di antara pepohonan. Napasnya terengah-engah saat ia berhenti di sebuah persimpangan, tetapi ia sadar—itu bukan persimpangan. Itu lingkaran, dan ia kembali ke tempat patung itu berdiri.
Namun kini, patung itu hilang. Sebaliknya, di tengah jalan, berdiri seorang wanita dengan gaun lusuh. Rambutnya menutupi wajahnya, dan tubuhnya berlumuran tanah. “Kau telah melanggar batas...” suara wanita itu serak namun menggema.
Arga mencoba berlari lagi, tapi tubuhnya tak bisa digerakkan. Wanita itu mendekat, dan tangan dinginnya menyentuh wajah Arga. Saat itu, ia mendengar jeritan nyaring di kepalanya, sebelum semuanya menjadi gelap.
Keesokan paginya, penduduk desa menemukan sepatu Arga di mulut Jalan Buntu. Tubuhnya tak pernah ditemukan. Mereka hanya tahu satu hal—Jalan Buntu telah mengambil korban lagi.
Sejak itu, tak seorang pun berani mendekati jalan itu, bahkan saat siang hari.
Tamat.

Seram ko....
ReplyDelete