"Pintu yang Tidak Pernah Tertutup"


Di sebuah desa kecil di Jawa Tengah, berdiri sebuah rumah tua yang dikenal sebagai Rumah Jati Merah. Rumah itu sudah kosong selama puluhan tahun, tetapi tidak ada yang berani mendekatinya. Konon, rumah itu milik seorang pedagang kaya pada zaman kolonial yang meninggal secara tragis bersama keluarganya. Setelah kejadian itu, banyak cerita menyeramkan muncul tentang rumah tersebut.

Suatu malam, seorang pemuda bernama Anton, yang baru pindah ke desa itu, tertarik untuk membuktikan kebenaran cerita tersebut. Ia mendengar dari warga bahwa ada satu hal aneh tentang rumah itu: pintu depannya selalu terbuka, meski sudah dicoba dikunci berkali-kali.
Dengan membawa senter dan keberanian, Anton memutuskan untuk masuk ke rumah itu. Ketika ia melangkah masuk, udara di dalam terasa berat, dan bau kayu lapuk bercampur darah menyengat hidungnya. Dinding penuh coretan tangan seperti bekas cakaran, dan di ruang tengah, sebuah meja makan besar masih tertata seperti sedang menunggu tamu.
Saat Anton mendekati meja, ia mendengar langkah kaki dari lantai atas. "Siapa di sana?" tanyanya. Tidak ada jawaban, hanya suara pintu yang berderit. Dengan hati-hati, ia menaiki tangga yang hampir roboh. Setiap langkahnya menimbulkan suara gemeretak.
Di ujung lorong, sebuah kamar dengan pintu separuh terbuka menarik perhatiannya. Ia mendorong pintu itu perlahan, dan apa yang ia lihat membuatnya hampir terjatuh: seorang wanita bergaun putih dengan punggung menghadap ke arah Anton, sedang menyisir rambut di depan cermin retak.
Wanita itu berhenti menyisir. Perlahan, ia memutar tubuhnya, tetapi wajahnya hancur seperti kaca yang pecah. Dengan suara serak, ia berkata, "Kenapa kau menutup pintu itu?" Anton terdiam. Ia tidak mengerti apa maksudnya.
Seketika, suara pintu depan terdengar tertutup keras. Anton berlari turun, tetapi rumah itu tampak berubah menjadi labirin. Setiap pintu yang ia coba buka mengarah ke ruang yang sama. Di tengah keputusasaan, suara wanita itu kembali terdengar dari dekat, "Pintu itu tidak boleh tertutup!"
Keesokan harinya, warga menemukan Anton duduk di depan pintu rumah, dengan wajah pucat pasi dan tubuh gemetaran. Sejak kejadian itu, Anton tidak pernah berbicara lagi. Namun, pintu rumah itu akhirnya tertutup rapat untuk pertama kalinya—dan tidak pernah terbuka lagi.





Comments

Post a Comment

Popular posts from this blog

"Arwah di Desa Angker, Banyuwangi"

Rumah di Ujung Gang – Misteri Keluarga yang Menghilang

"Kebun Angker: Misteri Pohon Tua yang Menjerat Jiwa"